07 November 2018 | Dilihat: 31 Kali
Politik Tempe Ala Sandiaga yang Menyengat Jokowi
noeh21

DUA bulan berlalu sejak Pemilihan Umum atau Pemilu 2019 memasuki masa kampanye. Di dua bulan ini, baik kubu Calon Presiden inkumben Joko Widodo maupun penantangnya Prabowo Subianto lebih banyak menurunkan wakil mereka yaitu Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno. Keduanya rutin kampanye ke daerah-daerah.

Jika membandingkan cara kampanye Ma'ruf Amin dengan Sandiaga Uno, rasanya pasangan Prabowo Subianto lebih unggul dalam membetot perhatian masyarakat. Dalam kunjungan-kunjungannya ke pasar, Sandiaga menyindir kondisi ekonomi Pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi menggunakan tempe.

Bahkan, teranyar, Sandiaga menantang Jokowi untuk adu gagasan lewat tempe. "Kita lakukan the search for the size of tempe. Kita lakukan pencarian tempe seperti apa ke depan," kata Sandiaga saat ditemui wartawan di kompleks rumah dinas DPR, Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu, 31 Oktober 2018. Sandiaga mengatakan ajakan itu menarik untuk membangun kampanye yang lebih sejuk. Musababnya, diskusi akan lebih mengerucut pada persoalan makanan pokok. "Coba kita liat bagaiamana reaksi di seluruh rakyat Indonesia baik dari kunjungannya Pak Jokowi dan saya," kata Sandiaga.

Sandiaga pertama kali menganalogikan kondisi ekonomi dengan tempe setelah mengunjungi beberapa daerah di Jawa pada awal September 2018. Sepulang dari kunjungan, Sandiaga menggelar jumpa pers, dalam sesi tanya jawab dengan wartawan, Sandiaga mengatakan menemukan banyak tempe setipis ATM. Sontak ucapannya ini mengundang perdebatan.

Beberapa pekan kemudian, Sandiaga kembali menyindir kondisi ekonomi di Indonesia dengan mengatakan menemukan tempe saset. Baik tempe setipis ATM maupun tempe saset memilik makna bahwa harga bahan dan kebutuhan pokok sedang tinggi. Sehingga pedagang harus mengakali barang jualan mereka.

Direktur presidential Studies Fisipol Universitas Gadjah Mada sekaligus pengamat politik, Nyarwi Ahmad, mengatakan gaya komunikasi Sandiaga Uno ini disebut politik dumbing down. "Ini tren istilah yang muncul di Eropa dalam 10 tahun ini untuk menyederhanakan kalimat politik yang sangat serius," kata Nyarwi.

Dalam fenomena dumbing down ini, politikus cenderung menggeser istilah-istilah politik yang rigid dan diplomatis dengan istilah yang mudah dipahami. Biasanya, dumbing down muncul pada masa-masa pemilihan umum. Para kandidat mencoba mencari perhatian masyarakat dengan bahasa pidato yang sederhana dan jenaka.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi rupanya tidak tinggal diam. Ia membalas sindiran Sandiaga dengan kunjungan ke beberapa pasar.

Jokowi mengklaim pemerintah berhasil menjaga stabilitas harga bahan pokok di pasar. Hal ini, kata dia, sejalan dengan tingkat inflasi yang berkisar 3,5 persen.

"Inflasinya stabil, harga di pasar juga stabil. Jadi jangan sampai ada yang teriak di pasar harga mahal-mahal. Nanti ibu-ibu di pasar marah, nanti enggak ada yang datang ke pasar, larinya ke supermarket, ke mal," katanya dikutip dari keterangan resmi Sekretariat Kepresidenan, Selasa, 30 Oktober 2018.

Dalam kesempatan itu, mantan gubernur DKI Jakarta ini berjanji, bila terjadi lonjakan harga bahan pokok maka ia akan langsung memerintahkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita untuk menjaga stabilitas harga. Meski demikian, Jokowi mengakui menyeimbangkan harga antara petani atau peternak dan konsumen bukanlah perkara mudah.

"Jadi jangan sampai harganya terlalu rendah, peternak nanti teriak-teriak. Kalau sayur murah, nanti petani juga teriak rugi. Jadi ini menyeimbangkannya enggak mudah. Kalau teriak mahal nanti yang marah ya ibu-ibu (pembeli)," kata Jokowi seperti menjawab Sandiaga.